Tarowih

by Atthullab on 08:34 PM, 28-Aug-09

SEKAPUR SIRIH
Sholat fardlu maupun sunnah merupakan ibadah badaniyah yang paling utama. Begitu pentingnya sehingga menjadi pilar agama yang diatasnya bisa berdiri kokoh instrumen-instrumen agama yang lain. Beragam jenis sholat yang kita temui yaitu fardlu, sunnah rowatib, dhuha, tahajud, tarawih dan lain-lain semuanya telah dipilah dengan sistematis oleh para ulama sesuai pesan-pesan syari’at yang dijelaskan lengkap dengan tatacaranya demi untuk tercapainya pribadi-pribadi muslim yang benar-benar menapaki sifat kehambaan.
Pembahasan tentang lika-liku sholat selalu menarik untuk dikaji terlebih bagi kita para pemula yang lebih dekat dengan fiqih ibadah, namun seyogyanya diskusi-diskusi tentang furu’iyah tidak menyebabkan kita terjerumus dalam perpecahan apalagi zaman sekarang, saat faktor-faktor eksternal semakin gencar menyudutkan, melemahkan dan memecah belah kaum muslimin.
Demikian juga tidak sepatutnya kita melupakan hal-hal yang penting sehingga kita gelap sama sekali tentang dasar-dasar yang menjadi pondasi amalan kita yang mungkin diperlukan saat kita berdialog dengan golongan lain yang tidak sejalan dengan kita, supaya mereka bisa bertoleransi, disamping itu bila kita menengok sejarah kehidupan para pendahulu kita ternyata beliau-beliau itu sangat peka dan responsif saat dihadapkan pada persoalan-persoalan sosial keagamaan yang terbilang baru.
Berangkat dari hal-hal diatas kami memulai dari pembahasan yang mungkin dianggap kecil, mencoba menelusuri seputar sholat tarawih sebagai kenang-kenangan teman-teman kelas IV tsanawiyah PP. Al Falah Ploso Mojo Kediri periode 2007, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita dimanapun kita berada dan menjadi awal terbukanya pikiran kita untuk terus menggali dalamnya lautan fiqh islam dijenjang selanjutnya.
Akhir kata, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu tugas-tugas kami untuk mewujudkan buku kecil ini, kami sadar buku kecil ini masih jauh dari sempurna, karena sudah barang tentu ada kekurangan di sana sini. Untuk itu kami hanya bisa memohon kebesaran hati untuk membuka pintu maaf untuk kami dengan harapan semoga buku ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.












MUQODIMAH
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله الحق المبين القوي المتين الذي أخرج قوما من ظلمات الجهل وجعلهم من المهتدين. وترك أخرين في مهامت الضلالات وجعلهم من الغاوين. والصلاة والسلام على سيدنا محمد إمام المتقين وأفضل الشافعين وعلى اله وصحبه أجمعين.
Bagi Pengikut Ahlissunnah Wal Jama’ah para sahabat merupakan komunitas yang terjamin keadilannya meskipun tidak ma’shum lebih-lebih Khulafaur Rosyidin, sejarah kehidupan mereka merupakan mutiara-mutiara tauladan, mereka adalah generasi pertama yang mengalami secara langsung kehidupan sang Baginda Rasul SAW. sudah barang tentu gerak langkah mereka merupakan cerminan nyata dari dasar-dasar yang telah diletakkan oleh sang Baginda Rasul SAW.
Ucapan perbuatan mereka merupakan lautan nan dalam yang telah diselami oleh para mujtahid panutan kita, banyak hukum-hukum yang dihasilkan atas dasar kesepakatan para sahabat yang mulia itu.
Diantara sekian banyak hukum yang didasarkan kesepakatan mereka adalah tentang sholat tarawih berjumlah 20 rokaat, betulkah tarawih berjumlah 20 rakaat adalah bid’ah yang tercela? sebagaimana yang disuarakan oleh sebagian golongan. Dan mereka mengatakan yang benar adalah delapan rokaat atas dasar bahwasanya Kanjeng Nabi melakukan sholat tarawih delapan rokaat .
Karena adanya komentar yang seperti itu yang sekarangpun masih terdengar, kiranya perlu membahas atau menelusuri masalah ini agar kita lebih mantap atas apa yang telah kita lakukan selama ini, bukan untuk memperlebar jurang pemisah antar sesama muslim, semoga buku ini bermanfaat bagi semuanya. Amin…


















DALIL - DALIL SYAR’IYYAH
Agama islam bukanlah agama yang diciptakan manusia atau hasil rekayasa kepandaian mereka tapi benar-benar merupakan sesuatu yang mutlak datang dari sang Kholiq demi terciptanya pola hidup yang menjamin keselamatan manusia dunia dan akhirat.
Oleh karena itu kerangka hukum dalam agama Islam dalam ubudiyah, muamalah atau lainnya harus merupakan sesuatu yang sudah diatur dan digariskan oleh Syara’.
Berdasarkan observasi, para Ulama’ Ahlissunnah wal Jama’ah menghasilkan suatu kesepakatan bahwa dalil-dalil yang dijadikan dasar hukum syara’ mengenai tingkah laku dan perbuatan manusia kembali pada empat sumber pokok yaitu: Al Qur’an, Al Sunnah, Al Ijma’ dan Al Qiyas.
1. Al Quran adalah kalamullah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad SAW. dengan lafadz yang berbahasa arab untuk menjadi hujjah bagi Rasul atas pengakuannya sebagai rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia yang mengikuti petunjuknya.
Dalil bahwa Al Quran sebagai hujjah bagi umat islam adalah bahwa Al Qur’an datang dari sisi Allah dan disampaikan kepada manusia melalui cara yang qoth’i (pasti) sedangkan bukti bahwa Al Quran datang dari sisi Allah adalah kemu’jizatannya dalam melemahkan umat manusia untuk mendatangkan semisal Al Quran.
2. Al Sunnah adalah sesuatu yang datang dari Rasulullah SAW. baik berupa perkataan, perbuatan atau ketetapan (taqrir) sebagai hujjah (pijakan hukum bagi umatnya)
Berdasarkan firman Allah dalam surat An nisa’ ayat 80:
ومن يطع الرسول فقد أطاع الله . النساء 80
Artinya: “Barang siapa mentaati Rasul maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah”. (QS Annisa’ : 80)
3. Al Ijma’ adalah kesepakatan seluruh Mujtahid dikalangan umat islam setelah Rasulullah SAW. wafat atas hukum syara’ mengenai suatu kejadian yang baru datang, Ijma’ merupakan salah satu pijakan hukum bagi ummat khususnya bagi Ahlussunnnah wal Jama’ah mulai Ijma’ itu wujud sampai akhir zaman.
Berdasarkan firman Allah dalam surat An nisa’ ayat 115
ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساء ت مصيرا.
النساء 115
Artinya : “Barang siapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman maka kami akan biarkan dia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami memasukkan ia kedalam neraka jahannam sedangkan neraka jahannam merupakan seburuk-buruknya tempat kembali”.
(QS Annisa’ 115)
Dan Hadist Rasulullah SAW :
لا تجتمع أمتي على ضلالة. رواه الترمذي
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan menghimpun umatku dalam kesesatan”.
(HR Turmudzi)
4. Al Qiyas adalah menyamakan suatu masalah yang tidak ada nash hukumnya dalam Al ََQur’an atau Hadits dengan suatu masalah yang ada nash hukumnya dalam Al Qur’an atau Hadits karena keduanya mempunyai kesamaan dalam alasan hukum, dengan adanya Qiyas diharapkan semua masalah yang timbul dimasyarakat yang belum ada nashnya secara jelas baik dalam Al Qur’an atau Hadits bisa diselesaikan dengan benar, Qiyas merupakan hujah syar’iyyah (pijakan hukum syara’).
Berdasarkan firman Allah dalam surat An nisa’ ayat 59.
يا أيها الذين أمنوا أطيعوا الله و أطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم فى شيء فردوه الى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الأخر ذلك خير وأحسن تأويلا. النساء 59
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah, Rasul dan pemimpin- pemimpinmu kemudian jika kamu berlainan pendapat mengenai sesuatu maka kembalikanlah sesuatu tersebut pada Allah (Al Quran) dan Rasul (Al Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya (QS Annisa’ 59)
Dan Hadist Rasulullah
( لما بعث النبي صلى الله عليه وسلم معاذ ابن جبل رضى الله عنه إلي اليمن قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " كيف تقضي إذا عرض لك قضاء " قال "أقضي بكتاب الله " قال " فإن لم تجد فى كتاب الله " قال " فبسنة رسول الله فإن لم تجد فى سنة رسول الله ولا فى كتاب الله " قال " أجتهد رأيي ولا ألو " قال " فضرب رسول صلى الله عليه وسلم صدره وقال " الحمد لله الذي وفق رسول رسول الله لما يرضاه رسول الله"wink قالوا " القياس من إجتهاد الرأي".
Artinya: Ketika Rasulullah SAW. mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bertanya “Bagaimanakah engkau memberi keputusan apabila suatu keputusan dihadapkan kepadamu ?”, Muadz bin Jabal menjawab “saya memberikan keputusan berdasarkan kitab Allah”. Beliau bertanya “jika kamu tidak menemukannya didalam kitab Allah ?”, Muadz menjawab “maka berdasarkan sunnah Rasulullah”. Beliau bertanya “jika kamu tidak menemukannya dalam sunnah Rasulullah dan kitab Allah ?”, Ia menjawab “saya akan berijtihad dengan pendapatku dan saya tidak akan gegabah (maksudnya saya tidak akan sembrono dalam berijtihad)”. Perowi berkata : Kemudian Nabi SAW. menepuk dada Muadz seraya berkata “segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada utusan Rasulullah terhadap sesuatu yang diridloi Rasulullah”. Ulam’a berkata Qiyas itu bersungguh - sungguh dalam berpikir. (HR Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi).



SEPUTAR HADITS-HADITS TARAWIH
Sholat tarawih merupakan sholat sunnah yang dilakukan pada setiap malam bulan Romadlon, dengan jumlah dua puluh rokaat sepuluh kali salam, boleh dibilang sholat tarawih merupakan sholat sunnah tahunan atau qiyamullailnya bulan Romadlon. Saat bulan Romadlon tiba kita akan melihat semaraknya orang-orang islam melaksanakan sholat tarawih pada malam hari setelah siangnya mereka berpuasa, sungguh merupakan suatu syi’ar yang dengannya kita mengungkapkan keagungan agama kita.
Ada beberapa Hadits yang berkaitan dengan sholat tarawih, yang menjelaskan sejarah dan permulaan disyariatkannya, sebagaimana kita ketahui Hadits Nabi disamping karakternya menjelaskan dan menafsiri sesuatu yang ada dalam Al Qur’an yang datang secara global juga terkadang membentuk hukum yang tidak disebutkan dalam Al Qur’an. Hadits-Hadits tersebut adalah :

Hadits pertama :
روى ابو هريرة رضي الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم إنه قال "من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه" رواه الشيخان وأبو داود وابن مجاه ومالك فى الموطاء.
Artinya : Abu Hurairah ra. meriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwasanya Nabi bersabda “Barangsiapa melaksanakan ibadah di bulan Romadlon karena iman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhori Muslim, Ibnu Majah dan Malik).
 Dalam menanggapi qiyamullail di bulan Romadlon, Ulama berbeda pendapat :
 Menurut Imam Nawawi yang dimaksudkan adalah sholat tarawih bahkan Imam Al Karmani mengatakan “Ulama telah sepakat bahwa yang dimaksud Qiyamu Romadlon adalah sholat tarawih”.
 Menurut pendapat Ulama’ yang lain mencakup semua dimensi ibadah.
 Dosa yang diampuni dengan qiyamul lail ulama berbeda pendapat :
 Menurut sebagian besar Ulama’, dosa yabg diampuni hanya dosa-dosa kecil yang berhubungan dengan Allah (Haqqulloh)
 Menurut Imam Ibnu Mundzir, dosa kecil dan besar yang berhubungan dengan Allah (Haqqulloh)

Hadits kedua :
روت عائشة رضي الله عنها " أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج ليلة من جوف الليل فصلى فى المسجد وصلى رجال بصلاته فأصبح الناس فتحدثوا فاجتمع أكثر منهم فصلوا معه فأصبح الناس فتحدثوا فكثر أهل المسجد من الليلة الثا لثة فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى فصلوا بصلاته فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى خرج لصلاة الصبح فلما قضى الفجر أقبل على النا س فتشهد ثم قال " اما بعد فإنه لم يخف على مكانكم ولكني خشيت أن تفرض عليكم فتعجزوا عنها " رواه البخارى.

Artinya : Siti ‘Aisyah meriwayatkan sebuah Hadits “Sesungguhnya pada suatu malam Nabi keluar hendak melakukan sholat di Masjid dan diikuti oleh para sahabat, keesokan harinya para sahabat berbincang-bincang tentang hal itu sehingga pada malam selanjutnya para sahabat yang mengikuti sholat semakin banyak dan pada malam keempat Masjid semakin penuh kemudian Nabi tidak keluar sampai melakukan sholat shubuh setelah itu Nabi mendatangi sekelompok orang dan beliau bersabda : “Apa yang kalian lakukan tadi malam sudah jelas bagiku akan tetapi aku khawatir sholat itu akan diwajibkan kepada kalian sehingga kalian tidak mampu melaksanakannya”. (HR. Imam Bukhori)

Hadits ketiga :
روى ابو هريرة رضي الله عنه قال : " كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرغب في قيام رمضان من غير أن يأمرهم فيه بعزيمة : "من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه ", فتوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم والأمر على ذلك ثم كان الأمر على ذلك فى خلافة أبي بكر وصدرا من خلافة عمر". رواه الشيخان وأبو داود وفي هذا القدر كفاية .

Artinya : Abu Hurairah ra. berkata : “Rasulullah SAW. menganjurkan beribadah pada bulan Romadlon dengan tanpa perintah yang kuat (pasti). Barang siapa yang beribadah pada bulan Romadlon karena iman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa yang telah lalu”. Kemudian Rululloh meninggal. Anjuran tersebut masih berlaku pada masa Kholifah Abu Bakar ra. dan permulaan Kholifah Umar ra.
Dari dua hadist diatas dijelaskan permulaan disyariatkannya sholat tarawih berawal dari keluarnya Nabi Muhammad SAW. untuk melakukan sholat pada malam-malam bulan Romadlon dan itu hanya terjadi pada tiga malam saja secara terpisah tepatnya tanggal 23, 25 dan 27 Romadlon pada tahun kedua hijriyah, untuk malam-malam selanjutnya Nabi tidak melaksaanakan taraawih dengan berjamaah di Masjid akan tetapi melaksanakan tarawih di Rumah, kemudian Nabi memberitahukan alasan kenapa Beliau tidak meneruskan, yaitu khawatir akan turun perintah yang mewajibkan sholat tarawih, hal ini merupakan kebijaksanaan dan kasih sayang Beliau pada umatnya.
Seperti keterangan Hadits :
وعن النعمان ابن بشير قال : قمنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ثلاث ليال فى شهر رمضان ليلة ثلاث وعشرين الى ثلث الليل ثم قمنا معه ليلة خمس وعشرين الى نصف الليل ثم قمنا معه ليل سبع وعشرين حتى ظننا ان لاندرك الفلاح.
Artinya: Dari Nu’man ibni Basyir berkata : “Saya sholat bersama Nabi selama tiga malam pada bulan Romadlon yaitu malam dua puluh tiga sampai seperti tiga malam kemudian pada malam dua puluh lima saya sholat bersama Nabi sampai separuh malam kemudian pada malam dua puluh tujuh sampai saya menyangka tidak

JUMLAH ROKAAT SHOLAT TARAWIH
Sebenarnya persoalan khilaf merupakan sesuatu yang wajar dan biasa terjadi dalam tataran fiqih tapi persoalannya menjadi rumit saat masing-masing golongan saling merasa lebih benar bahkan ada yang merasa paling benar dan ini terjadi sampai sekarang. Diantara sekian permasalahan itu adalah jumlah rokaat tarawih, maka dari itulah mari kita telusuri kebenaran rokaatnya sholat tarawih pada zaman Nabi Muhammad SAW. Sahabat, Tabi’in, Ulama’ kita terdahulu. Ada beberapa Hadits yang berkaitan dengan jumlah rokaat tarawih, diantaranya :
a. Hadits yang menerangkan sholat tarawih 20 rokaat :
روى عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : "كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي فى رمضان فى غير جماعة بعشرين ركعة والوتر"(رواه البيهقي)
Artinya : Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., Beliau berkata “Rosululloh SAW. melaksanakan sholat di bulan Romadlon sebanyak 20 rokaat dan witir tanpa berjamaah”. (HR. Baihaqy)
Hadits ini dianggap dlo’if oleh Imam Baihaqi dan Imam Abdil Barr, karena dalam Hadits tersebut terdapat Ibrohim bin Utsman Abu Syaibah yang dinilai oleh para Muhadditsin sebagai orang yang kurang dipercayai. Disamping itu Hadits ini bertentangan dengan Hadits yang menerangkan delapan atau sebelas rokaat yang dianggap shohih. Oleh karena itu Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah bahwa shoat tarawih itu 20 roka’at.
b. Hadits yang menerangkan tentang delapan rokaat :
روي عن جابر "صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فى رمضان ثمان ركعات ثم أوتر فلما كانت القابلة إجتمعنا فى المسجد ورجونا أن يخرج إلينا حتى أصبحنا" رواه ابن حبان
Artinya : Diriwayatkan dari Jabir : Rosululloh sholat bersama kami di bulan Romadlon sebanyak delapan rokaat, kemudian melakukan sholat witir, kemudian pada malam berikutnya kami berkumpul di masjid dan mengaharapkan Nabi untuk keluar akan tetapi Nabi tidak keluar sampai waktu sholat subuh.
Hadits ini juga tidak bisa dijadikan hujjah mengenai jumlah rokaat tarawih karena ada dua kemungkinan yaitu :
1. Kemungkinan sahabat Jabir ra. termasuk golongan yang hanya hadir pada malam ketiga saja sehingga tidak mengetahui kejadian dua malam sebelumnya sebagaimana keterangan Imam Zarqoni didalam Syarah Muwattho’.
2. Kemungkinan sahabat Jabir ra. datang ke masjid hanya mengikuti delapan rokaat kemudiaan memberi kabar tentang apa yang dilihatnya, padahal Beliau tidak menafikan jumlah rokaat tarawih melebihi delapan rokaat bahkan seandainya Beliau menafikan tambahan tersebut Hadits ini tetap tidak bisa dijadikan hujjah karena adanya kemungkinan-kemungkinan di atas.
c. Hadits yang menerangkan lebih dari delapan rokaat :
أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج من جوف الليل ليالي من رمضان وهي ثلاث متفرقة ليلة الثالث والخامس والسابع والعشرين وصلى فى المسجد وصلى الناس بصلاته فيها وكان يصلي فى المسجد وصلى الناس بصلاته فيها وكان يصلي بهم ثمان ركعات ويكملون باقيها فى بيوتهن فكان يُسْمَعُ لهم أزيز كأزيز النحل.
Artinya : Sesungguhnya Nabi keluar pada malam-malam bulan Romadlon yaitu tiga malam yang terpisah tepatnya malam 23, 25, 27 dan Nabi melakukan sholat dimasjid diikuti oleh para sahabatnya, pada waktu itu Nabi dan para sahabat melakukan sholat delapan rokaat kemudian mereka menyempurnakan dirumahnya masing-masing sehingga terdengar ramai seperti suaranya tawon. (HR. Bukhori Muslim)
Kandungan Hadits ini menjelaskan bahwasanya Nabi melaksanakan sholat tarawih secara berjamaah dengan jumlah rokaat lebih dari delapan, terbukti Nabi dan para sahabatnya menyempurnakan sholat tarawih tersebut dirumah masing-masing, namun jumlah penyempurnaan itu dalam Hadits ini tidak dijelaskan. Sehingga kandungan Hadits ini saja tidak cukup untuk menentukan jumlah rokaat tarawih.
d. Hadits yang menerangkan sebelas rokaat :
روي عن عائشة رضي الله عنها "ان أبا سلمة ابن عبد الرحمن سأل عائشة رضي الله عنها "كيف كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟" قالت "ما كان يزيد فى رمضان وغيره على إحدى عشرة ركعة يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا" فقلت "يا رسول الله أتنام قبل أن توتر ؟" قال "يا عائشة ! إن عيني تنامان ولا ينام قلبي". رواه البخاري وغيره
Artinya : Diriwayatkan dari Siti ‘Aisyah ra. bahwasanya Aba Salamah bin Abdirrohman bertanya kepada Siti ‘Aisyah ra. tentang sholat Rosululloh, Beliau berkata : “Nabi tidak pernah sholat melebihi sebelas rokaat baik pada bulan Romadlon atau yang lainnya, pertama sholat empat rokaat, kamu jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian empat rokaat lagi, kamu jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian sholat tiga rokaat, selanjutnya aku bertanya : “Ya Rosululloh, apakah Baginda tidur sebelum witir ?”, Beliau menjawab : “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur tapi hatiku tidak”.
(HR. Bukhori dan yang lain)
Menggunakan dalil dengan Hadits Siti ‘Aisyah diatas mengenai jumlah rokaat tarawih tidak tepat, karena Hadits diatas diarahkan untuk sholat witir, seperti kita maklumi jumlah sholat witir paling sedikit satu rokaat dan yang paling banyak sebelas rokaat.
Yang menunjukkan bahwa Hadits diatas diarahkan untuk sholat witir adalah :
1. Pertanyaan Siti ‘Aisyah ra. yaitu, “Apakah Tuan (Nabi SAW) tidur dahulu sebelum melakukan sholat witir ?” أتنام قبل أن توتر ؟ ) (, andaikan Hadits diarahkan untuk sholat tarawih tentunya Beliau pasti tidak bertanya demikian, karena sholat tarawih dilakukan setelah sholat isya’ sebelum tidur.
2. Didalam Hadits diatas terdapat redaksi "ما كان يزيد فى رمضان وغيره على إحدى عشرة ركعة" yang menerangkan Nabi tidak melakukan sholat yang melebihi sebelas rokaat baik pada bulan Romadlon ataupun lainnya. Padahal sholat tarawih hanya ada pada bulan Romadlon.
Dalam kitab-kitab hadits terdapat beberapa riwayat yang menerangkan sholat sebelas rokaat dan itu merupakan sholat witir diantaranya :
عن عروة عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي من الليل إحدى عشرة ركعة يوتر منها بواحدة فإذا فرغ إضطجع على شقة الأيمن. رواه المالك
Artinya : Hadits yang diriwayatkan dari Siti ‘Aisyah ra. yang merupakan istri Nabi, bahwasanya Nabi pada waktu malam melakukan sholat sebanyak sebelas rokaat yang satu rokaat darinya merupakan sholat witir, kemudian setelah selesai Nabi tidur miring diatas lambung kanan. (HR. Malik)
Disamping itu Hadits Siti ‘Aisyah diatas bertentangan dengan Hadits yang lain yang juga diriwayatkan Siti ‘Aisyah ra. :
عن عائشة رضي الله عنها قالت " كان رسول الله صلى الله وسلم يصلي من الليل ثلاث عشرة ركعة يوتر منها بخمس لايجلس فى شيء من الخمس حتى يجلس فى الأخيرة فيسلم ". رواه أبو داود
Artinya : Dari Siti ‘Aisyah ra. berkata : “Rosululloh SAW. melakukan sholat pada suatu malam sebanyak tiga belas rokaat yang lima darinya merupakan sholat witir nabi tidak duduk kecuali pada rokaat yang terakhir kemudian salam. (HR. Abu Dawud)
Kesimpulan Hadits-Hadits yang menunjukkan jumlah rokaat sholat diatas tidak bisa dijadikan hujah untuk jumlah rokaat tarawih, karena didalamnya terdapat kemungkinan-kemungkinan dan kontradiksi. Ketika Hadits-Hadits diatas tidak bisa dibuat hujah, maka hujjah kita melaksanakan sholat tarawih dua puluh rokaat adalah ijma’ para shohabat pada masa kholifah Umar dan berlansung sampai kholifah Utsman dan Ali, seperti keterangan beberapa Hadits dibawah ini :
1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari sahabat Sa’id bin Yazid ra. beliau berkata :
كا نوا يقومون على عهد عمر ابن الخطاب رضي الله عنه فى شهر رمضان بعشرين ركعة. رواه البيهاقي
Artinya : “ semua orang-orang islam melakukan sholat tarawih dizaman kholifah Sayyidina Umar bin Khottob ra. dengan 20 rokaat”. (HR. Baihaqi)
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dari Yazid ra. :
كان الناس يقومون فى زمن عمر رضي الله عنه بثلاث وعشرين ركعة يعني أنهم صلوا التراويح عشرين ركعة ثم أوتروا بثلاث. رواه المالك
Artinya : Semua orang-orang islam melakukan sholat pada zaman Sayyidina Umar bin Khottob ra. dengan 23 rokaat (maksudnya mereka melakukan sholat tarawih 20 rokaat kemudian sholat witir 3 rokaat). (HR. Malik)
3. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dengan sanad yang shohih :
إنهم يقومون على عهد عمر بعشرين ركعة وعلى عهد عثمان وعلي بمثله فصار إجماعا
وقد روى البخاري عن عبد الرحمن ابن عبد القاري قال : خرجت ليلة مع عمر فى رمضان إلى المسجد فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلي الرجل لنفسه ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط فقال : إني أرى لو جمعت على هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل ثم عزم فجمعهم على أبي ابن كعب ثم خرجت ليلة أخرى والناس يصلون بصلاة قارئهم قال عمر : نعم البدعة هذه.
Artinya : Imam Bukhori meriwayatkan dari Abdirrohman bin Abdil Qori’ yang berkata : “Pada suatu malam didalam bulan Romadlon saya keluar bersama Umar ra. menuju ke masjid ketika itu orang-orang berkelompok-kelompok, ada seseorang yang sholat sendiri, dan ada yang sholat diikuti oleh orang banyak, kemudian Umar berkata : “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dengan satu orang Imam tentunya lebih utama “,kemudian Beliau mengumpulkan mereka dibelakang Ubay ibnu Ka’ab, kemudian aku bersama Umar keluar pada malam selanjutnya dan orang-orang melakukan sholat mengikuti sholatnya satu orang pembaca (imam), Umarpun berkata : “Inilah sebaik-baiknya bid’ah”.
Yang dimaksud kholifah Umar ra. “Inilah sebaik-baiknya bid’ah” adalah bid’ah yang tidak keluar dari tatanan agama (bid’ah hasanah). Meskipun secara etimologi bid’ah mempunyai arti perkara baru yang belum ada sebelumnya, sedangkan dalam istilah syara’ merupakan sebuah nama untuk sesuatu hal baru yang terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. yang diatasnamakan agama tetapi bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits atau bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang lain. Dengan demikian bid’ah menurut syara’ merupakan kebalikan dari sunnah.
Dari kedua tinjauan makna diatas kita tidak bisa langsung memfonis bahwa setiap sesuatu yang baru pasti sesat. Karena sesuatu yang baru adakalanya termasuk perkara agama dan bukan perkara agama (dunia). Apabila bukan termasuk perkara agama kemudian tidak merusak kemulyaan-kemulyaan Allah dan Rosulnya seperti naik kendaraan, menggunakan teknologi komputer, internet, ponsel, MP 4 dan semua jenis alat-alat modern yang lain, maka tidak tergolong bid’ah yang sesat (dholal). Bila sesuatu yang baru tersebut merupakan perkara agama dan merusak tatanan agama maka inilah yang dikatakan bid’ah yang sesat sehingga pelakunya termasuk orang yang tersesat, seperti faham-faham yang bertentangan dengan sunnah Nabi, para sahabat dan tabi’in baik dalam akidah atau furu’iyah. Contohnya, meyakini adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW., sholat dilakukan dengan telanjang, tidak wudlu dan lain sebagainya.
Selanjutnya jika hal baru yang termasuk perkara agama dan tidak merusak tatanan agama maka adakalanya mendapatkan izin yang umum dari syara’ atau tidak, jika tidak mendapat izin yang umum dari syara’, maka hal tersebut termasuk bid’ah yang sesat, sedangkan jika mendapatkan izin maka akan terkena hukum wajib, sunnah atau mubah.
Kesimpulannya perkara bid’ah akan terkenai lima hukum syara’ :
1. Wajib, seperti pembukuan Al Qur’an dan syariat-syariat ketika khawatir punah, karena menyampaikan Al Qur’an dan syariat pada generasi yang akan datang hukumnya telah disepaakati wajib, begitu juga sebaliknya menyia-nyiakan Al Qur’an atau membiarkan Al Qur’an dan syariat mengalami kepunahan hukumnya telah disepakati haram.
2. Haram, seperti pembaharuan-pembaharuan yang bersifat dholim sperti bea cukai atau pajak.
3. Makruh, seperti menghias masjid dan menentukan malam jum’at dengan ibadah yang khusus.
4. Sunnah, seperti melakukan sholat tarawih secara berjamaah dan membangun pondok madrasah.
5. Mubah, seperti bersalaman setelah sholat ashar dan subuh.
Dari penjelasan diatas kita bisa menyimpulkan bahwasanya bid’ah tidak selamanya sesat adakalanya wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Sedangkan Hadits Nabi yang berbunyi كل بدعة ضلالة merupakan lafadz yang umum tapi dikehendaki khusus dan bisa diartikan “semua bid’ah yang bertentangan dengan syara’ itu sesat’. Jadi tidak semua bid’ah menyesatkan, oleh karena itu Hadits ini tidak bertentangan dengan perkataan Kholifah Umar ra. yang berbunyi نعم البدعة هذه (inilah sebaik-baiknya bid’ah) karena yang dilakukan oleh sahabat Umar ra. hanya mengumpulkan orang-orang untuk sholat tarawih berjamaah dengan satu imam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu beliau menamakan bid’ah, secara syara’pun apa yang dilakukan beliau tidak bertentangan dengan syara’ karena sholat tarawih berjamaah hukumnya sunnah.
Ada pendapat dari sebagian Ulama’ yaitu Imam Ibnu Hammam : “Sholat tarawih dilaksakan 20 rokaat merupakan tindakan Khulafa’ur Rosyidin, dan tindakan Khulafa’ur Rosyidin bukan suatu tindakan yang tidak menggunakan dasar karena Nabi Muhammad SAW bersabda dalam haditsnya :
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهد يين عضوا عليها بالنواجد. رواه ابو داود
Artinya : “Berpegang teguhlah pada sunnahku (tingkah laku dan tata caraku) dan sunnah (tingkah laku dan tata cara) Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah itu dengan gigi gerahammu (pegang teguhlah jangan sampai lepas). (HR. Abu Dawud)

Dari beberapa keterangan hadits diatas kita telah mendapatkan kejelasan bahwa didalam jumlah rokaat sholat tarawih terjadi terjadi perbedaan keterangan yang ada didalam hadits, sehingga sangat wajar kalau para Ulama’ kita terdahulu juga berbeda pendapat dalam menentukan jumlah rokaat sholat tarawih, dan kita tidak boleh merasa paling benar karena kita melakukan sholat tarawih sebanyak dua puluh rokaat dengan menyalahkan orang lain yang melakukan sholat tarawih kurang atau lebih dari dua puluh rokaat, karena Ulama’ Syafi’iyyah berbeda pendapat dalam jumlah rokaat sholat tarawih, diantaranya :
 Sholat tarawih delapan rokaat, tiga rokaat sholat witir
 Sholat tarawih sepuluh rokaat, tiga rokaat sholat witir
 Sholat tarawih dua puluh rokaat, tiga rokaat sholat witir
 Sholat tarawih dua belas rokaat, satu rokaat sholat witir
 Sholat tarawih empat puluh rokaat, tiga rokaat sholat witir
 Sholat tarawih tiga puluh delapan rokaat, tiga rokaat sholat witir
 Sholat tarawih empat puluh rokaat, satu rokaat sholay witir
 Sholat tarawih tiga puluh enam rokaat, satu rokaat sholat witir
Sebenarnya kita tidak ada gunanya saling menyalahkan dan merasa paling benar karena sholat tarawih merupakan sholat sunnah, berapapun rokaat yang kita lakukan, lakukanlah dengan cara yang yang khusyu’, bahkan sholat tarawih itu sah dilakukan hanya dua rokaat satu kali salam, tanpa ditambah rokaat lagi, yang tidak sah adalah empat rokaat satu kali salam.
TATA CARA SHOLAT TARAWIH

Sholat tarawih merupakan sholat yang dilakukan pada bulan Romadlon yang berjumlah 20 rokaat seperti keterangan pada bab sebelumnya dengan 10 kali salam, hal semacam ini untuk selain penduduk Madinah, sedangkan penduduk Madinah melakukannya sebanyak 36 rokaat, tujuannya untuk membandingi sholat tarawih yang dilakukan oleh penduduk Makkah karena penduduk Makkah setiap selesai 4 rokaat melakukan thawaf sebanyak 7 kali sehingga penduduk Madinah menambah 4 rokaat sebagai pengganti dari 7 thawaf yang dilakukan oleh penduduk Makkah.
Hal tersebut dimulai pada kurun pertama Hijriyah pada zaman Umar bin Abdul Aziz dan merupakan kekhususan untuk penduduk yang berada di Madinah, dan tidak diperbolehkan diterapkan pada selain Madinah karena kota Madinah mempunyai keistimewaan yaitu hijrah dan dimaqomkannya Nabi Muhammad SAW.
 Waktu Pelaksanaan Sholat Tarawih
Waktu sholat tarawih mulai setelah melakukan sholat isya’ walaupun belum masuk waktu isya’ (pada jama’ taqdim) sampai habisnya waktu isya’.
 Niat Sholat Tarawih
Cara niat sholat tarawih harus qosdu fi’li (menyangaja melakukan sholat tarawih), menta’yin (menentukan sholat sunnah tarawih atau qiyamu Romadlon).
Selanjutnya mengenai bacaan surat yang paling utama adalah menghatamkan Al Qur’an dalam satu bulan penuh berarti setiap malamnya mambaca satu juz. Selain yang telah disebutkan diatas semuanya sama dengan sholat-sholat yang lain.
 Bacaan-Bacaan Setelah Dua Kali Salam
Sekilas kita akan sedikit heran melihat variasi bacaan yang dibaca oleh bilal setelah selesai empat rokaat sholat tarawih, ternyata diberbagai daerah bacaan-bacaan tersebut sangat beragam, apa yang melatarbelakangi perbedaan bacaan tersebut, ternyata hal itu merupakan pendapat-pendapat para Ulama’ untuk mengisi istirahat setiap setelah empat rokaat tarawih.
Imam Zabidi menjelaskan bahwa Ashab Hanafiyyah sebagaimana Ashab Syafi’iyyah menghukumi sunnah beristirahat dengan duduk setiap selesai empat rokaat tarawih dengan alasan perilaku tersebut merupakan warisan Ulama’ Salaf, kemudian bacaan-bacaan untuk mengisi duduk tadi bermacam-macam :
a. Menurut Hanafiyyah
 Membaca tasbih
 Membaca surat
 Sholat empat rokaat
 Diam
b. Menurut Syafi’iyyah
 Membaca bacaan dibawah ini sebanyak tiga kali :
سبحان ذي الملك والملاكوت سبحان ذي العزة والعصمة والهيبة والكبرياء والجبروت سبحان الحي الذى لايموت سبوح قدوس رب الملائكة والروح.
 Membaca bacaan dibawah ini sebanyak tiga kali :
لاإله إلا الله وحده لاشريك له له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو على كل شيء قدير.
 Membaca surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali.
 Setelah empat rokaat membaca :
الخليفة الأولى أبو بكر الصديق رضي الله عنه
Setelah delapan rokaat membaca :
الخليقة الثانية عمر ابن الخطاب رضي الله عنه
Setelah dua belas rokaat membaca :
الخليفة الثالثة عثمان ابت عفان رضي الله عنه
Setelah enam belas rokaat membaca :
الخليفة الرابعة علي ابن أبي طالب رضي الله عنه
Setelah dua puluh rokaat membaca do’a.

Demikianlah bacaan-bacaan tadi disebutkan dengan beragam lafadz karena memang tidak ditemukan dzikir yang datang dari Nabi Muhammad SAW asalkan tidak meyakini kesunnahan secara khusus diantara sela-sela sholat tarawih tetapi bertujuan dzikir atau berdo’a yang secara umum kapanpun disunnahkan.

 Membaca sholawat setelah setiap salam sholat tarawih
Membaca sholawat secara umum sangat dianjurkan dimanapun dan kapanpun, misalnya setiap kali disebutkan nama Nabi Muhammad SAW atau saat memulai dan mengakhiri do’a dan lain-lain, sebagai wujud rasa syukur kita atas terlahirnya Nabi Muhammad SAW yang menjadi perantara sampainya agama islam kepada kita, sungguh sesuatu yang wajar jika kita ingin memperbanyak bacaan sholawat setiap waktu, waalaupun demikian kit tidak diperbolehkan menentukan bacaan sholawat pada waktu tertentu seperti kebiasaan membaca sholawat setelah salam dalam sholat tarawih, jika diyakini sebagai sesuatu yang disunnahkan seyelah salam sholat tarawih maka akan berakibat hukum haram, jika tidak demikian hukumnya tetap sunnah.

Tanbihun
Wasiat Syaikh Sayyid Abdullah Bin Alwi Al Haddad
Penamaan tarawih untuk sholat sunnah yang dilakukan pada malam-malam bulan Romadlon bermula dari kebiasaan para sahabat melakukan istirahat setelah dua kali salam dikarenakan panjangnya bacaan yang menyebabkan lama berdiri, demikianlah keadaan mereka yang sangat perhatian dan antusias dalam melaksanakan ibadah ini, sungguh berbeda dengan kebiasaan yang kita temui pada zaman sekarang yaitu banyaknya orang yang mempercepat bacaan-bacaan sholat tarawih seakan-akan mereka berlomba-lomba untuk meraih keberhasilan yang mereka anggap sebuah prestasi, sehingga timbullah semacam kontradiksi antara penamaan sholat tarawih dengan kenyataan, meskipun seandainya dimaksudkan untuk menarik simpati agar lebih banyak jamaah itu sah-sah saja dengan catatan tidak sampai meninggalkan kewajiban-kewajiban didalam sholat.
Syaikh Sayyid Abdullah Bin Alwi Al Haddad berkata "Hindarilah mempercepat sholat tarawih yang bisa menyebabkan tertinggalnya kewajiban-kewajiban sholat seperti thuma’ninah dalam ruku’ dan sujud, membaca fatihah sesuai dengan aturannya. Hal ini sering terjadi pada sebagian besar masyarakat awam. Mereka menganggap bahwasanya sholatnya sudah benar sehingga mereka tidak mengakui keteledorannya padahal dihadapan Allah mereka tidak mendapat apa-apa, semua itu merupakan tipu daya setan yang sangat besar bagi orang-orang yang beriman “amal batal tapi merasa terlaksana” karena itu hati-hatilah jika anda sholat tarawih ataupun yang lainnya, sempurnakanlah bacaan ruku’, sujud dengan khusyu’ dan khudhu’.



























HUKUM-HUKUM
YANG BERKAITAN DENGAN SHOLAT TARAWIH
I. Hukum Sholat Tarawih Kurang Dari 20 Rokaat
Sholat tarawih jika dilakukan kurang dari 20 rokaat sudah bisa menghasilkan kesunnahan, dalam arti mendapatkan pahala-pahala tarawih walaupun sejak awal sengaja melakukan kurang dari 20 rokaat, akan tetapi tentunya tidak bisa mencapai kesempurnaan.
II. Hukum Mendahulukan Sholat Witir Dari Pada Tarawih
Dalam melaksanakan sholat witir tidak harus setelah melaksanakan sholat tarawih, bahkan boleh saja melaksanakan sholat witir sebelum tarawih. Kerena kedua sholat tersebut merupakan sholat sunnah yang mengikuti sholat Isya’ sehingga boleh untuk dibolak-balik, akan tetapi yang lebih utama adalah mendahulukan tarawih daripada sholat witir.
III. Akibat Pembacaan Fatihah Yang Dilakukan Imam Dengan Cepat
Diantara syarat jamaah adalah makmum masbuq harus menemui thuma’ninah dalam ruku’ bersamaan dengan thuma’ninahnya imam. Maka jika tidak menemuinya, rokaat tidak terhitung. Oleh karena itu kejadian-kejadian yang sering kita alami dalam pelaksanaan tarawih yang keberadaan makmum masih membaca fatihah sedangkan imam sudah ruku’ disebabkan bacaan fatihahnya yang cepat namun masih memenuhi syarat-syarat pembacaan fatihah, selanjutnya makmum tidak langsung mengikuti ruku’ tapi dia menyelesaikan fatihahnya sehingga tidak memenuhi thuma’ninah yang terdapat dalam ruku’nya imam.
Kejadian semacam ini makmum harus menambahi satu rokaat lagi, jika tidak maka sholatnya batal. Lain halnya jika pembacaan itu disebabkan tergesa-gesa yang menghilangkan syarat-syarat pembacaan fatihah maka tentunya jamaahnya tidak sah.
IV. Hukum Sholat Tarawih Empat Rokaat Satu Kali Salam
Melaksanakan sholat tarawih empat rokaat satu kali salam menurut madzhab Syafi’i tidak sah jika disengaja dan mengetahui ketidakbolehannya. Sedangkan jika tidak disengaja atau tidak mengetahui maka sholatnya menjadi sholat sunnah mutlaq.
Hal itu dikarenakan sholat tarawih lebih menyerupai sholat fardhu terbukti sholat tarawih disunnahkan secara berjamaah sehingga tidak boleh menyalahi sesuatu yang telah diajarkan oleh Nabi disinilah letak perbedaan antara sholat tarawih dengan sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah, pada sholat qobliyah dan ba’diyah boleh melakukan sholat empat rokaat satu kali salam.
Sedangkan menurut Malikiyyah, Hanabilah dan Hanafiyyah boleh melakukan sholat tarawih empat rokaat satu kali salam.





HIKMAH SHOLAT TARAWIH
“Andai umat-umat agama lain tentang hikmah sholat tarawih pasti mereka terkagum-kagum akan kemurahan kemurahan ajaran agama islam yang luhur”. Demikian komentar seorang Ulama’.
Seseorang yang berpuasa seharian penuh tidak diperbolehkan menikmati makanan dan minuman sampai waktu maghrib tiba, setelah itu ia dipersilahkan melakukan hal-hal yang dilarang sebelumnya.
Sudah menjadi tabiat manusia yang didalam dirinya terdapat porsi sifat hayawaniyah, ia akan sedemikian rakus dan tamak untuk memenuhi nafsunya selagi mungkin. Begitu juga saat berbuka puasa sudah menjadi fakta kebanyakan orang, makan minum sekenyang-kenyangnya akhirnya ia merasa lemah dan tak berdaya karena berlebih-lebihan, padahal secara ilmu kedokteran makan dan minum berlebih-lebihan merupakan penyebab utama timbulnya berbagai penyakit seperti diisyarohkan dalam firman Alloh :
كلوا واشربوا ولا تسرفوا . الأعرف 31
Artinya : “Makan dan minumlah kalian semua tapi jangan berlebih-lebihan”.
Meski berbuka puasa berlebih-lebihan kurang disukai syara’ ternyata syara’ begitu bijak, tidak lantas menyalahkan tapi memberikan solusi berupa sholat tarawih yang mana didalamnya terdapat gerakan sujud, ruku, sujud, berdiri dan lain-lain. Tujuannya adalah mengembalikan stamina yag telah lenyap serta penyakit-penyakit yang dikhawatirkan. Hikmah ini akan lebih terealisasi jika sholat tarawih dilakukan 20 rokaat karena lebih banyak gerak.
Mr. Edward bercerita “suatu hari aku diundang untuk ikut berbuka bersama oleh salah seorang pembesar pedagang muslim, aku melihat orang-orang islam memakan hidangan dengan lahapnya sampai aku mengira mereka semua akan terkena penyakit perut, setelah itu tibalah waktu isya’, aku perhatikan mereka sholat isya’ dan setelah itu meneruskan dengan sholat tarawih sehingga aku yakin gerakan-gerakan sholat itu bermanfaat untuk mengembalikan kekuatan dan gairah dan juga bisa menghilangkan penyakit-penyakit yang mestinya menimpa mereka. Akhirnya aku percaya agama islam merupakan agama yang ajarannya sangat bijak”.
Disamping itu rahasia 20 rokaat tarawih untuk menyesuaikan dengan keagungan bulan Romadlon karena sholat sunnah rowatib muakkad pada selain bulan Romadlon jumlahnya 10 rokaat, maka pada bulan Romadlon yang merupakan bulan istimewa untuk beribadah sudah seharusnya ibadahnya dilipatgandakan.

HAL-HAL YANG DIPRAKARSAI OLEH
SAYYIDINA UMAR BIN KHOTTOB RA.
Siapa yang tak kenal dengan Kholifah Sayyidina Umar bin Khottob ra.? Beliau adalah sahabat Nabi SAW. yang berkepribadian tegas tapi ketundukannya pada Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW. sangat mengagumkan.
Beliau merupakan kholifah yang kedua setelah Kholifah Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Beliau diangkat menjadi kholifah pada bulan Jumadil Akhir tahun 13 Hijriyah sampai tahun 23 Hijriyah. Seperti yang telah kita ketahui pada masa Kholifah Abu Bakar Ash Shiddiq ra. dimulailah pengumpulan Al Qur’an, pada masa Kholifah Utsman bin Affan ra. disyariatkan adzan pertama dalam sholat jum’at, pada masa Kholifah Ali bin Abi Tholib ra. muncullah inspirasi pembakuan kaidah-kaidah nahwu.
Seperti halnya pada masa kholifah yang lain pada masa Kholifah Umar ra. pun terjadi hal- hal yang diawali atau bermula dari kebijakan Kholifah Umar ra. baik yang berkaitan dengan ibadah atau kemashlahatan umum diantaranya :
 Orang yang pertama dijuluki Amirul Mukminin
 Orang yang pertama yang menggunakan penanggalan Hijriyah
 Orang yang pertama yang menciptakan kas negara
 Orang yang pertama yang memberlakukan ronda malam
 Orang yang pertama yang menaklukkan kota-kota kaum kafir
 Orang yang pertama yang mengumpulkan kaum muslimin pada sholat tarawih dengan satu imam
 Orang yang menciptakan ‘aul dalam ilmu faroid
 Orang yang pertama mengutus hakim-hakim kebeberapa wilayah kekuasaan
 Orang yang pertama mencambuk peminum khamr dengan 80 cambukan dan lain-lain.

Suatu hari sahabat Ali bin abi Tholib ra. melewati masjid-masjid yang terang benderang dengan lampu-lampu pada bulan Romadlon, dan Beliau berdo’a :
نور الله على عمر فى قبره كما نور علينا في مساجدنا
Artinya : “Semoga Allah SWT. menyinari Umar dalam kuburnya seperti Beliau menyinari kita pada masjid-masjid kita”.














INFIROD DAN JAMAAH

Sholat termasuk bagian bagian sholat yang disunatkan berjamaah secara ittifaq seperti halnya sholat ied, istisqo, dan khusufain, walaupun demikian mengenai yang lebih utama antara infirod dan jamaah ternyata ada silang pendapat antara Ulama, akibat tinjauan mereka yang berbeda-beda .
Sebagian ulama berpendapat jamaah lebih utama, dengan alasan-alasan sebagai berikut :
 Mengikuti apa yang telah dilakukan sahabat Umar ra.
 Dalam jamaah terdapat barokah dan fadilah, terbukti jamaah lebih utama dalam sholat fardlu
 Suasana dalam berjamaah menimbulkan semangat untuk melakukannya

Sebagian Ulama yang lain berpendapat infirod lebih utama, dengan alasan sebagai berikut :
 Sholat tarawih bukan merupakaan syi’ar agama karena itu lebih pantas disamakan dengan sholat dluha atau tahiyyatul masjid yang mana keduanya tidak disyariatkan berjamaah
Berdasarkan Hadits :
فضل صلاة التطوع في بيته على صلاته في المسجد كفضل صلاة المكتوبة في المسجد على صلاته في البيت Artinya: Keutamaan sholat sunnah yang dilakukan dirumah yang mengungguli sholat dimasjid seperti keutamaan sholat maktubah yang dilakukan dimasjid yang mengungguli sholat dirumah.
 Kemungkinan riya dalam berjamaah lebih besar daripada infirod
Qoul yang mukhtar berjamaah lebih utama menurut mazhab Syafi’i, Abu hanifah, dan sebagian ulama Maliki.
Khilafiah diatas diperuntukan bagi orang yang hafal Alqur’an dan tidak khawatir malas, serta tidak menyebabkan kekosongan masjid akibat ketidak hadirannya, jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka jamaah lebih utama .


































BACAAN SURAT PADA SHOLAT TARAWIH

Membaca surat setelah membaca fatihah merupakan sesuatu yang disunnahkan pada setiap sholat walaupun hanya satu ayat atau sepotong ayat tapi secara makna sudah berfaidah, dan sudah bisa menncukupi kesunnahan akan tetapi yang sempurna tiga ayat, membaca satu surat lebih utama daripada sebagian surat jika ukuran sebagian surat tersebut menyamai atau lebih sedikit dari satuu surat. Ketentuan umum ini berlaku pada semua sholat yang tidak ada ketentuan baku mengenai surat yang dianjurkan untuk dibaca.

Dalam ssholat tarawih bacaan yang dianjurkan adalah mengkhatamkan Al Qur’an dalam sebulan dengan pembagian sekira akhir malam bulan Romadlon bisa dikhatamkan, misalnya setiap malam membaca satu juz, karena itu selain bacaan ini dihukumi khilaful aula seperti membaca surat At Takatsur sampai surat Al Lahab secara berurutan pada setiap rokaat pertama kemudian pada setiap rokaat kedua membaca surat Al Ikhlas, atau membaca surat Al Ikhlas tiga kali setiap rokaat, namun hukum khilaful aula hanya berlaku bagi orang yang hafal seluruh Al Qur’an atau sebagiannya, sedaangkan bagi orang yang tidak hafal tidak dihukumi khilaful aula karena tergolong tidak mampu untuk menunaikan yang utama (aula), selanjutnya yang lebih utama membaca surat Al Ikhlas tiga kali berdasarkan hadits yag menerangkan membaca surat Al Ikhlas tiga kali sama dengan mengkhatamkan Al Qur’an.











Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Email:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images