Haji

Posted by Atthullab on 11:50 AM, 02-Sep-09



BAB PEMBAGIAN HAJI
1. Haji Tamatu adalah : mendahulukan ihram umrah dari pada ihram haji dan niat ihramnya : "نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهاَ " "نَوَيْتُ الْحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ "
2. Haji Ifrad adalah : mendahulukan ihram haji dari pada ihram umrah dan niat ihramnya : "نَوَيْتُ الْحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ " "نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهاَ "
3. Haji Qiran adalah : melakukan ihram umrah sekaligus ihram haji dan niat ihramnya " نَوَيْتُ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهِماَ "
BAB IHRAM
a. Ihram haji harus dilakukan dalam bulan haji (Antara tanggal 1 Syawwal sampai tanggal 10 Dzilhijjah) dan sebelum melewati miqat (miqat bagi orang Indonesia gelombang pertama adalah Bir-ali "lihat peta miqat" dan untuk gelombang kedua miqatnya adalah Qornul manazil, tapi juga boleh dilakukan dari Jeddah atau bandara King Abd. Aziz. Karena miqat boleh ditunda hingga sampai ke tempat yang sama jaraknya dengan miqat asli atau lebih jauh, sementara jarak Qornul manazil ke Makkah ± 92,16 km dan jarak dari Jeddah ke Makkah ± 107 km).
b. Ihram umrah bisa dilakukan kapan saja dan harus sebelum melewati miqat (jika haji tamatu atau haji qiran maka miqatnya sama dengan miqat diatas dan jika haji Ifrad atau umrah sunat dan sudah berada di Makkah maka miqatnya adalah Tan-im, Jirana, Hudaibiyah dan semua tempat yang di luar tanah haram "lihat peta miqat "wink.
Kesunatan – kesunatan sebelum niat ihram :
1. Memotong kuku, bulu ketiak, dan kumis.
2. Mandi dan niatnya "نَوَيْتُ الْغُسْلَ ِلْلإحْرَمِ سُنَّةًلله تَعاَلىَ "
3. Memakai minyak wangi kecuali jika pelaksana haji berpuasa atau sedang melakukan iddah.
4. Shalat dua raka'at dan niatnya "أُصَلِّي سُنَّةَ اْلإِحْرَمِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعاَلى "
5. Melakukan niat ihram saat hendak menuju ke Makkah (tidak di tempat peristirahatan).
6. Memakai sandal yang tidak menutupi semua jari – jari kaki.
Kesunatan – kesunatan setelah niat ihram :
1. Mengumandangkan talbiyah.
2. Mengeraskan suara saat membaca talbiyah bagi laki – laki jika tidak mengganggu orang lain.
3. Mengecilkan suara saat membaca talbiyah bagi selain laki – laki dan bagi laki – laki ketika bacaan talbiyahnya bisa mengganggu orang lain.
BAB TAWAF
Macam – macam tawaf
1. TAWAF QUDUM : Disunatkan bagi orang yang masuk Makkah dan tidak sedang melaksanakan haji tamatu (bagi orang yang melaksanakan haji ifrad, qiran atau tidak melaksanakan haji sama sekali).
* Waktunya : mulai dari memasuki tanah Makkah sampai melakukan wukuf di Arafah.
2. TAWAF RUKUN : Diwajibkan bagi orang yang melakukan ihram, baik ihram haji atau ihram umrah.
* Waktunya : untuk ihram haji mulai tengah malam hari raya nahar (10 Dzilhijjah) setelah melakukan wukuf di Arafah dan tidak ada batas akhir (harus dilakukan sebelum meninggal).
untuk ihram umrah mulai setelah niat ihram umrah dan tidak ada batas akhir (harus dilakukan sebelum meninggal).
3. TAWAF WADA : Diwajibkan bagi selain wanita yang sedang hidl, nifas dan hendak pulang ke tempat asal atau hendak keluar dari tanah haram dan tujuan mencapai jarak diperbolehkan mengqosor shalat (92,16 km).
* Waktunya : mulai hendak meninggalkan Makkah hingga melewati jarak diperbolehkan mengqoshor shalat (92,16 km) atau hingga sapai ke tempat asal. Jika ditinggalkan maka wajib membayar fidyah (lihat ketentuannya dalam bab fidyah).
4. TAWAF SUNAT : Disunatkan bagi orang yang tidak punya tanggungan tawaf rukun dan wada. Waktunya bisa kapan saja.
Kewajiban – kewajiban tawaf :
1. Niat tawaf untuk selain tawaf wada bagi orang yang telah melaksanakan haji, selain qudum dan tawaf rukun.
2. Menutupi aurat.
3. Suci dari dua hadats (hadats kecil dan hadats besar).
4. Ka'bah berada di sisih kirinya (berjalan kearah kiri).
5. Tawaf dilakukan di luar Ka'bah tidak di dalam Ka'bah (tidak boleh memegang Syadzarwan) "lihat gambar Ka'bah".
6. Tawaf dilakukan tujuh kali putaran secara yaqin (jika ada keraguan maka harus menambah hingga yaqin telah melakukan tujuh kali putaran).
7. Tawaf dilakikan di dalam Masjidil haram tidak di luar masjid.
8. Berputar dengan tujuan tawaf (tidak untuk mengejar teman atau yang lain).
Kesunatan – kesunatan tawaf :
1. Tawaf dilakukan dengan berjalan, kecuali jika ada udzur, seperti terasa sulit.
2. Memegang Hajar Aswad (jika bisa )atau dengan isyarat saja (jika tidak bisa) kemudian mencium tangan yang digunakan isyarat atau memegangnya. (Bagi orang yang sedang menjalankan ihram baik ihram haji maupun umrah tidak boleh menyentuh Hajar Aswad, karena semua dinding Ka'bah dan Hajar Aswad sekarang telah dipenuhi dengan minyak wangi "yang disebut dengan minyak hajar aswad", sementara orang yang sedang menjalankan ihram tidak boleh memakai atau menyentuh minyak wagi).
3. Menempelkan dahi ke Hajar Aswad, bagi orang laki – laki. Dan bagi selain laki – laki boleh melakukannya jika dalam keadaan sepi.
4. Membaca " باسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ " saat memulai tawaf dan setiap kali menghampiri Hajar Aswad.
5. Berlari kecil pada tiga putaran pertama, bagi orang laki – laki yang hendak melakukan sa-i setelah tawaf.
6. Dekat dengan Ka'bah (dengan ketentuan seperti no. 3).
7. Meletakkan ujung baju ihram diatas bahu sebelah kiri dan bagian tengah baju ihram diletakkan di bawa bahu sebelah kanan (bagi laki – laki).
8. Tujuh putaran terus-menerus (jika diselingi istirahat atau wudlu karna batal wudlunya ,tidak harus mengulangi dari awal akan tetapi boleh langsung meneruskan dari tempat berhenti)
9. Shalat dua rokaat tawaf (sunnah dilakukan dibelakang maqom ibrahim) أُصَلِّيْ سُنَّةَ الطَّوَافِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالىَ
BAB SA-I
Waktunya setelah melakukan tawaf qudum (bagi yang melakukan) dan sebalum wukuf di tabah Arafah atau setelah tawaf rukun dan tidak ada batas akhir (harus dilakukan sebelum mati)
Syarat-syarat sa-I :
1. Dilakukan tujuh kali
2. Dimulai dari gunung Shafa (lihat gambar masjid) dalam bilangan ganjil (1,3,5,7)
3. Dimulai dari gunung Marwah (lihat gambar masjid) dalam bilangan genap (2,4,6)
4. Dilakukan setelah tawaf qudum dan sebelum wukuf atau dilakukan setelah tawaf rukun
Kesunatan-kesunatan sa-I :
1. Naik ke gunung Shafa dan Marwah (bagi laki-laki, bagi selain laki-laki boleh melakukan jika dalam keadaan sepi)
2. Berjalan biasa disemua tempat (bagi selain laki-laki)
3. Berjalan biasa diselain tempat antara dua pal hijau (lihat gambr masjid) bagi laki-laki.
4. Berlari kecil di antara dua pal hijau "lihat gambar masjis" bagi laki – laki.
5. Tujuh putaran dilakukan terus menerus, jika diselingi istirahat, tidak harus mengulangi dari awal, akan tetapi boleh meneruskan dari tempat kita berhenti.
6. Memperbanyak dzikir dan do'a (semua tempat amalan haji adalah tempat mustajab).
BAB WUKUF DI TANAH ARAFAH
Waktunga mulai tergelincirnya Matahari (awal waktu Dzuhur) tanggal 9 Dzulhijjah sampai keluarnya fajar tanggal 10 Dzilhijjah.
Kewajiban – kewajiban wukuf di tanah arafah:
1. Berada di tanah arafah meski hanya sebentar pada waktu wukuf yang telah ditentukan.
2. Wukuf dilakukan tidak pada waktu gila dan epilepsi / ayan (bagi penderita keduanya) dan tidak dalam keadaan mabuk.
Kesunatan – kesunatan wukuf di tanah arafah:
1. Dua khutbah (dilakukan oleh imam setelah dzuhur).
2. Memperbanyah dzikiran dan do'a (semua tempat amalan haji adalah tempat mustajab).
3. Melakukan wukuf di siang dan malam hari (tidak hanya di waktu siang saja atau malam saja).
* Bagi orang yang tidak sempat melakukan wukuf di tanah Arafah hingga lewat waktu wukuf, maka tidak dapat melanjutkan ibadah hajinya dan harus melakukan tahallul (caranya adalah dengan melakukan amalan umrah yaitu tawaf rukun ,sa-i dan memotong rambut )
* Untuk shalat dzuhur-ashar dan aghrib-isya boleh dijama taqdim atau ta'khir karna ada yang memperbolehkannya meskipun jarak mekkah arafah hanya 25 km dan tidak boleh melakukan qoshor karna tidak ada ulama yang memperbolehkan dalam perjalanan dekat ataupun dalam keadaan seperti ini (hendaknya tidak melakukan qoshor meskipun sebagian jamaah haji melakukannya)
BAB MABIT DI MUZDALIFAH
Hukum mabit di muzdalifah adalah wajib menurut sebagian ulama dan sunnah menurut sebagian yang lain. Hendaknya mengikuti pendapat yang kedua jika rombongan tidak melakukan mabit.
Waktunya mulai tengah malam hari raya nahar (tanggal 10 Dzilhijjah) dan harus sudah melakukan wukuf di Arafah ,sampai keluarnya fajar tanggal 10 Dzilhijjah.
Jika tidak melakukan mabit maka wajib membayar fidyah menurut pendapat yang pertama dan sunnah membayar fidyah menurut pendapat yang kedua "lihat ketentuannya dalam bab dam".
Kesunatan – kesunatan mabit di muzdalifah :
1. Mengambil batu untuk pelemparan jumrah di Mina sebanyak 70 buah (hendaknya ditambahi untuk cadangan).
2. Memperbanyak dzikir dan da'a (semua tempat amalan haji adalah tempat mustajab).
3. Mandi (sulit untuk dilakukan).
BAB MELEMPER JUMRAH DAN MENGINAP DI MINA
Melempar jumrah dilakukan tiga kali bagi nafar awal (orang yang hendak kembali ke Mekkah pada tanggal 12 dzulhijjah) dan dilakukan empat kali bagi nafar tsani (orang yang hendak kembali ke Mekkah pada tanggal 13 Dzulhijjah).
1. Pada hari raya nahar tanggal 10 Dzulhijjah hanya melempar jumrah aqabah saja (7 kali lemparan).
* Waktunya mulai tengah malam hari raya nahar (tanggal 10 Dzilhijjah) dan harus sudah melakukan wukuf di tanah Arafah, sampai terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzilhijjah.
2. Pada hari tasyriq yang pertama tanggal 11 Dzilhijjah. Melempar tiga jamrah (Ula, Wusta dan Aqabah) masing-masing 7 kali lemparan.
* Waktunya mulai tergelincirnya matahari menurut sebagian ulama dan mulai keluarnya fajar menurut sabagian yang lain (kita boleh mengikuti pendapat yang kedua), sampai terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzilhijjah.
3. Pada hari tasyriq yang kedua tanggal 12 Dzilhijjah. Melempar tiga jamrah (Ula, Wusta dan Aqabah) masing-masing 7 lemparan.
* Waktunya mulai tergelincirnya matahari menurut sebagian ulama dan mulai keluarnya fajar menurut sebagian yang lain (kita boleh engikuti pendapat yang kedua), sampai terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzilhijjah.
4. Pada hari tasyriq yang ketiga tanggal 13 Dzilhijjah. Melempar tiga jamrah (Ula, Wusta dan Aqabah) masing-masing 7 lemparan.
* Waktunya mulai tergelincirnya matahari menurut sebagian ulama dan mulai keluarnya fajar menurut sebagian yang lain (kita boleh mengikuti pendapat yang kedua), sampai terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzilhijjah.
Syarat-syarat melempar jamrah.
1. Melempar tujuh kali.
2. Menggunakan tangan selagi bisa.
3. Yang dilemparkan termasuk jenis batu (bukan sandal atau yang lain).
4. Leparan ditujukan ke tempat lemparan (lihat gambar jamrah).
5. Lemparan mengena tempat lemparan (lihat gambar jamrah).
Kesunatan – kesunatan melempar jamrah:
1. Membaca takbir setiap kali melemparkan batu.
2. Menggunakan tangan kanan.
3. Dalam keadaan suci.
4. Batunya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil (kira – kira sebesar ujung jari).
Menginap di Mina pada malam 11, 12 Dzilhijjah (dan pada malam 13 bagi yang nafar tsani) hukumnya adalah wajib.
Dan waktunya adalah mulai terbenamnya matahari sampai keluarnya fajar.
Kewajiban – kewajiban menginap di mina :
Berada di Mina lebih dari separuh malam "menurut sebagian ulama" atau berada di Mina menjelang keluarnya fajar "menurut sebagian yang lain".
BAB TAHALLUL
Tahallul adalah melepaskan diri dari ihram. Tahallul haji ada dua dan tahallul umrah hanya ada satu.
Tahallul umrah adalah dengan melakukan tawaf rukun, sa-i dan memotong rambut.
Tahallul haji yang pertama adalah dengan melakukan dua dari tiga perkara : melempar jamrah aqabah di hari raya nahar, potong rambut dan tawaf ifadlo + sa-inya.
Tahallul haji yang kedua adalah dengan melakukan yang tersisa, yaitu : Tawaf ifadloh + sa'I, potong rambut, melempar jamroh aqobah.
Nafar awal ialah keluar dari Mina ke Makkah/ke daerah lain pada tgl. 12 Dzilhijjah dengan syarat : a. Keluar setelah tergelincirnya matahari dan sebelum matahari terbenam. b. Telah melaksanakan mabit di Mina pada malam 11 dan 12. c. Telah melontar jamarat untuk tgl.10-12.
Nafar tsani ialah keluar dari Mina pada tgl. 13 Dzilhijjah.
AMAL- AMAL HAJI(SECARA TERTIB)
1. Ihram haji (Rukun), Mulai 1 Syawal sampai terbitnya fajar 10 Dzulhijjah dengan niat dari miqat (نويت الحج وأحرمت به لبيك اللهم لبيك الخ)
2. Tawaf qudum ( Sunat ), Mulai masuk mekkah sampai masuk towaf rukun (Bagi selain ahli Makkah yang tidak haji tamattu dan masuk Makkah subelum masuk waktu tawaf ifadlah )
3. Wuquf di Arafah ( Rukun ), Tanggal 9 Dzulhijjah mulai tergelincirnya matahari sampai terbitnya fajar tanggal 10 Dzulhijjah
4. Mabit di Muzdalifah ( Wajib / Sunat ), Tanggal 10 Dzulhijjah tengah malam hari raya sampai terbitnya fajar 10 Dzulhijjah
5. Mabit di masy'aril haram ( Sunat ), Tanggal 10 Dzulhijjah tengah malam hari raya sampai terbitnya fajar 10 Dzulhijjah
6. Melontar jamrah Aqobah pada hari qurban (Wajib), Tanggal 10 Dzulhijjah sampai terbenamnya matahari tanggal 13 Dzulhijjah
AMAL-AMAL UMRAH(SECARA TERTIB)
[1]. Ihram umroh ( Rukun ), dimulai dari miqot [2]. Towaf rukun ( Rukun ), dilaksanakan setelah ihram [3]. Sa'I antara sofa dan marwah ( Rukun ), dilaksanakan setelah tawaf [4]. Cukur / potong rambut ( Rukun ), dilaksanakan setelah sa'i

MACAM – MACAM DAM
1. Muqaddar Mukhayyar
Pelaksanaannya :
a. Menyembelih kambing.
b. Menyerahkan tiga sha pada enam faqir miskin yang berada di tanah haram.
c. Berpuasa tiga hari.
• Memopong satu rambut atau satu kuku wajib membayar satu mud dan memotong dua rambut atau dua kuku wajib membayar dua mud.
Sebab – sebabnya :
1. Cukur. 2. Potong kuku. 3. Memakai pakaian yang diharamkan. 4. Memakai minyak rambut.5. Memakai minyak wangi. 6.Muqadimah jima. 7. Jima yang ke dua (setelah jima yang membatalkai haji/umrah). 8. Jima antara dua tahallul
2. Muqaddar Murattab
Pelaksanaannya :
a. Menyembelih kambing.
b. Berpuasa sepuluh hari.
c. Menyerahkan sepuluh mud pada faqir miskin yang berada di tanah haram.
• Malontar jamrah kurang satu batu /tidak mabit semalam wajib membayar satu mud dan bila dua batu/dua malam maka wajib dua mud.
Sebab – sebabnya :
Meninggalkan hal-hal yang diwajibkan : 1. Tamattu. 2. Qiran. 3. Haji yang batal. 4. Melontar jamrah. 5. Mabit di Mina. 6. Mabit di Muzdalifah.7. Ihram dari miqat.8.Tawaf wada. 9. Nadzar ke Makkah dengan berjalan /dengan naik kendaraan.
3. Muaddal Mukhayyar
Pelaksanaannya :
a. Menyembelih hewan (dengan ketentuan di dalam kitab fiqh).
b. Menyerahkan makanan yang seharga dengan hewan yg wajib dipotong.
c. Berpuasa selama beberapa hari (sesuwai dengan jumlah mud dari harga hewan yang wajib disembelih).
Sebab – sebabnya :
Mengganggu hewan buruan dan memotong pohon.
4. Muaddal Murattab
Pelaksanaannya :
a. Menyembelih unta-sapi-tujuh kambing
b. Menyerahkan makanan yang seharga dengan hewan yang wajib dipotong.
c. Berpuasa selama beberapa hari (sesuwai dengan jumlah mud dari harga hewan yang wajib disembelih).
Sebab – sebabnya :
Ihshar (tidak bisa melaksanakan amalan-amalan haji sebab terkepung musuh), Jima yang membatalkai haji (jima sebelum tahallulawal)
CATATAN: Muqaddar ialah dam yang ditentukan kadar kuajiban selanjutnya dan tidak boleh kurang/lebih (lebih, akan diharamkan jika diniati untuk dam yakni bukan sedaqah sunat).
Muaddal ialah dam yang tidak ditentukan kadar kuajiban selanjutnya, akan tetapi dengan menyamakan harga.
Mukhayyar ialah diperbolehkannya memilih salah satu dari kuajiban - kuajiban dam.
Murattab ialah tidak diperbolehkannya berpindah ke kuajiban dam berikutnya, kecuali bila sudah tidak mampu melaksanakan kuajiban dam yang pertama. Satu mud = 679,79 gr.
Satu sha = 4 mud.
*MASALAH MASALAH PENTING*
1) Termasuk syarat-syarat tawaf menarut Imam Syafii ialah suci dari hadats. Oleh karena itu, bagi setiap orang yang tawaf harus bisa menghindari semua sesuatu yang bisa membatalkan wudlu, yang di antaranya adalah bersentuhan dengan wanita yang bukan mahram, meskipun agak sulit. Dan cara untuk terhindar dari hal di atas, antara lain adalah:
a. Tawaf di lantai dua/lantai tiga, Tapi inipun juga sulit, sebab bangunan Masjidil Haram tidak bulat, sehingga untuk meluruskan pundak sebelah kiri pada kabah (MUHADZAHTUL BAIT) yang merupakan syarat tawaf, terkadang harus berjalan menyamping.
b. Mengikuti salah satu dari dua pendapat dalam malmus (bila terpegang dan tidak memegang).
c. Pindah ke Madzhab lain dengan mengikuti ketentuan-ketentuan menurut Madzhab tersebut.
2) Bagi wanita yang datang bulan sebelum melaksanakan tawaf ifadlah dan tidak mungkin untuk menetap di Makkah hingga selesai haidl, karena faktor biaya/rombongan/khawatir akan keselamatan dirinya/karena faktor lain, boleh kembali ke tanah air dan sesampainya di tempat yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Makkah, ia harus melakukan tahallul seperti tahallulnya orang yang terkepung musuh (menyembelih, cukur dan niat tahallul). Sementara tawaf tetap dalam tanggungannya, dengan arti sewaktu-waktu ia mampu untuk kembali ke Makkah, ia wajib kembali untuk melaksanakan tawaf (dan wajib niat ihram jika kembali untuk tawaf). Menurut Imam Abi Hanifah, wanita tersebut boleh langsung tawaf meski dalam keadaan masih haidl, tetapi ia berdosa dan wajib membayar unta, karena menurut beliau suci dari haidl merupakan hal yang wajib bukan syarat, sementara sesuatu yang wajib dalam haji bisa diganti dengan dam. Dari sini bagi mereka yang datang bulan sebelum melaksanakan tawaf ifadlah bisa mengikuti pendapat beliau, tapi harus memperhatikan ketentuan-ketentuan tawaf menurut beliau (kewajiban tawaf, syarat dan yang membatalkannya). Ketentuan tahallul di atas, jika memang darah haidl keluar terus-menerus (sekira bila vagina disumpal dengan semisal kapas maka akan tampak merah pada kapas). Akan tetapi jika darah tidak terus-menerus keluar (dengan ketentuan di atas) maka harus tahallul seperti di atas menurut Qaul Sahbi (qaul ashah) yang berpendapat bahwa haidl tidak hanya tertentu ketika darah sedang keluar saja, akan tetapi ketika darah tidak keluarpun wanita juga dihukumi haidl. Dan menurut qaul yang kedua, yaitu Qaul Laqthi (muqabil ashah) yang berpendapat bahwa haidl hanya tertentu ketika darah sedang keluar dan ketika darah tidak keluar, wanita dihukumi suci/tidak haidlـ wanita tersebut di saat darah tidak keluar langsung mandi wajib dan melakukan tawaf ifadlah. Dari keterangan di atas bagi kaum hawa yang sedang menstruasi sebelum melakukan tawaf ifadlah boleh mengikuti pendapat ini di saat darah berhenti/tidak keluar.
3) Waktu melontar Jamrah pada hari tasyriq dimulai setelah tergelincirnya matahari menurut qaul yang ashah (Imam Nawawi), dan boleh sebelum tergelincirnya matahari, menurut qaul yang kedua (Imam Rafii). Sedangkan mayoritas jemaah haji Indonesia melontar Jamrah setelah terbitnya fajar dan sebelum tergelincirnya matahari, mungkin hal ini lebih disebabkan dari kekhawatiran mereka akan berdesakan sewaktu melontar jamrah. Hal ini dibenarkan tapi makruh, menurut pendapat Imam Rafii . Hal tersebut dibenarkan karena qaul yang mutamad adalah qaul ashah bukan qaul shahehـ Sedangkan muqabilnya qaul ashah boleh diamalkan, berbeda dangan muqabilnya qaul shaheh, karena biasanya muqabilnya qaul shaheh itu fasid (tidak tepat). Sementara yang diterangkan oleh Imam Ibni Hajar dalam syarah Idlach hal.406. Bahwa tidak diperbolehkan melontar jamrah sebelum tergelincirnya matahari (hanya ada satu qaul), yang berarti qaul yang mutamad adalah qaul saheh, itu ditakwil dengan yang dijelaskan dalam kitab Tarsyihul Mustafiddin hal.186.): ـ قوله تداركه ـ Sedangkan nafar awal tidak boleh sebelum tergelincirnya matahari meski menurut qaul tersebut. Oleh karena itu bagi jemaah haji yang nafar awal sebelum tergelincirnya matahari wajib kembali ke Mina dan jika tidak kembali maka harus membayar satu mud, karena tidak mabit pada malam 13 Dzilhijjah dan membayar dam muqaddar murattab, karena tidak melontar jamrah pada tgl. 13 Dzilhijjah.
4) Cara untuk menggugurkan dam tamattu dan dam qiran ialah keluar ketika hendak ihram haji untuk haji tamattu dan setelah masuk Makkah sebelum wukuf untuk haji qiran, ke miqat di mana ia masuk Makkah/ke tempat yang sama jaraknya/ke miqat lain/ ke tempat yang mencapai jarak dua marhalah dari tanah Haram (92,16km).
5) Menjama dan mengqashar shalat yang sering dilakukan oleh sebagian jemaah haji Indonesia di arafah, dibenarkan untuk jama sedangkan untuk qashar tidak dibenarkan. Sebab dalam jama ada dua pendapat: a) Jama di Arafah ini diperbolehkan karena safarnya, sehingga tertentu untuk perjalanan jauh (92,16km). b). Jama di Arafah ini diperbolehkan karena nusuknya (ibadah haji) yang konsekuensinya tidak tertentu untuk perjalanan jauh, inilah qaul yang harus mereka ikuti, sebab perjalanan mereka tidak jauh, karena antara Makkah dan Arafah hanya ada 25km, sementara masafatul qashri (jarak diperbolehkan mengqashar shalat) itu 92,16km. Sedangkan untuk qashar, ulama sepakat hanya husus untuk perjalanan jauh. Oleh karenanya bagi jemaah haji yang menjama dan mengqashar di Arafah wajib qodlo, sebab shalatnya tiak sah, karena salam setelah rakaat kedua, sementara mereka harus itmam/ menyempurnakan empat rakaat.
6) Jemaah haji Indonesia biasanya ditempatkan di Charratul lisan atau bahkan di tempat yang lebih jauh dan orang Arab menyebutnya Mina jadid, padahal sebenarnya Mina dimulai dari Wadil Muhassir sampai ke jamratul Aqabah yang jaraknya 3,456km. Dan semua gunung yang menghadap ke Mina termasuk Mina, sementara yang berpaling tidak termasuk Mina. Oleh karena itu, bagi mereka yang tempatnya di Charratul lisan atau bahkan lebih jauh, harus keluar ke Mina untuk melaksanakan mabit separuh malam lebih (qaul ashah) atau hadir menjelang fajar hingga fajar terbit (muqabilul ashah). Keharusan untuk keluar di atas bila mengikuti qaul ashah yang mengatakan mabit di Mina adalah wajib dan menurut pendapat lain mabit tersebut hukumnya sunat.
7) Termasuk hal-hal yang diharamkan untuk laki-laki yang menjalankan ihram adalah memakai sesuatu yang bisa meliputi seluruh badan/anggota (dan disamakan dengan anggota adalah jenggot), baik berbentuk jahitan, ikatan atau tenunanـ Karena itu diperbolehkan memakai sesuatu yang sekira tidak meliputi seluruh badan/anggota, dengan kata lain tidak meliputi sama sekali/hanya meliputi setengah anggota, seperti sabuk biasa, sabuk yang ada sakunya (walaupun dipakai seperti biasa, yakni diikat) dan jam tangan. Lamanya waktu penerbangan dari Indonesia ke Jeddah kira-kira 10 jam dan ke Madinah kira-kira 13 jam. Oleh sebab itu, bila di tengah-tengah perjalanan masuk waktu shalat (waktu setempat) maka ditafsil/diperinci: a. Bila shalat masih mungkin untuk dilaksanakan di Jeddah/di Madinah maka harus menunggu hingga sampai ke tempat tersebut yang selanjutnya shalat dilaksanakan di sana. b. Bila shalat tidak mungkin untuk dilaksanakan di Jeddah/di Madinah maka shalat dilakukan di dalam pesawat sebisa mungkin, dengan arti harus wudlu bila ada air yang bisa digunakan untuk wudlu. Harus tayamum jika tak ada air dan ada debu untuk tayamum atau tidak usah kedua-duanya jika tak ada air juga debu dan harus menghadap qiblat saat takbiratul ihram jika memungkinkan, tapi jika tidak memungknkan maka tidak wajib untuk menghadapnya, serta shalat dilaksanakan dengan duduk, sementara untuk rukuk dan sujud cukup dengan berisyarat, hanya saja sujud harus lebih ke bawah dari pada rukuk dan wajib untuk iadah/mengulangi shalat sesampainya di bandara. Dan jika mereka memaksakandiri untuk shalat dengan menghadap qiblat serta menyempurnakan semua rukun (shalat dengan berdiri dan menyempurnakan rukuk dan sujud) maka untuk wajib dan tidaknya melakukan iadah ada dua pendapat: a. Tidak wajib menurut imam Ibnu Hajar. b. Wajib menurut Imam Ramli (mutamad).
8) Orang yang memulai tawaf harus berada di sisih Hajar Aswad yang ke arah Rukun Yamani “menurut kita” adalah keterangan yang telah kami terima dari para Masyayikh, mungkin hal ini disebabkan dari penjelasan para ulama dalam menerangkan cara melakukan tawaf, seperti Imam Nawawi di dalam kitab majmu
9) Adalah termasuk sesuatu yang fatal, kebisaan orang-orang yang masuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan tanpa melepas sandal yang mereka pakai, juga yang dilakukan oleh tukang kebersihan masjid, yaitu membersihkan masjid menggunakan sepon dengan tanpa memperdulikan ada najis atau tidak, yang konsekuensinya bila ada najis, najis akan merata, hal ini sangat sulit untuk kita hindari. Oleh karena itu, diperbolehkan tawaf dan shalat di tempat tersebut bila tak bisa dihindari dan kaki berikut tempat tersebut tidak basah.
10) Tawaf wada tidak termasuk amalan haji, akan tetapi hukumnya wajib (menurut sebagian pendapat) atau sunat (menurut pendapat yang lain), bagi mereka yang hendak keluar dari Makkah ke tempat diperbolehkannya mengqashar shalat (92,16km), baik penduduk asli Makkah maupun bukanـ Hukum wajib/sunah di atas itu bagi selain wanita haidl, nifas/istihadlah, orang yang punya luka yang khawatir akan mengotori masjid, orang yang tidak menemukan alat uutuk bersuci (air dan debu) dan orang yang khawatir akan keselamatan dirinya, farjinya (kehormatannya)/hartanya. Orang yang sudah melakukan tawaf wada harus segera keluar dari Makkah dan jika tidak segera keluar dari Makkah maka ditafsil: a. Bila tidak ada udzur/karena sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan keluar tersebut, seperti membeli suatu barang, membayar hutang, menemui teman atau membesuk orang sakit, maka wajib untuk mengulangi tawaf wada, menurut selain Imam Abi Hanifah. b. Bila disebabkab oleh sesuatu yang berkaitan dengan keluar, semisal berkemas-kemas maka tidak wajib untuk mengulangi tawaf wada.
11) Termasuk sunnah-sunnah tawaf adalah mengusap serta mencium Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani, tiga kesunatan ini sekarang tidak bisa untuk diperaktekkan oleh orang yang sedang ihram, sebab semua dinding Kabah saat ini telah diberi minyak Hajar Aswad, sementara orang yang sedang menjalankan ihram tidak boleh memakai minyak wangi atau menyentuhnya. Oleh karena itu, jika ingin mengamalkan tiga kesunatan ini hendaknya dilaksanakan saat tawaf sunat di luar ihram.

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

1 responses to "Haji"

Roni on 05:58 AM, 06-Sep-09

Doain aku ya...biar bs melaksanakan ibadah haji. Bagus bahannya utk nambah k imanan Qta

Subscribe to comments feed: [RSS] [Atom]

New Comment

[Sign In]
Name:

Email:

Comment:
(Some BBCode tags are allowed)

Security Code:
Enable Images